Diposkan pada Desain Pembelajaran

Taksonomi Tujuan Instruksional

I. TUJUAN INSTRUKSIONAL

1.1.  HIRARKI  TUJUAN INSTRUKSIONAL DALAM TUJUAN PENDIDIKAN

Tujuan instruksional merupakan “deployment” atau penjabaran dari tujuan pendidikan.  Dalam  sistem  pendidikan,  secara  nasional  tujuan  pendidikan  tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Dari tujuan pendidikan nasional ini kemudian dijabarkan ke dalam tujuan pendidikan institusional,  tujuan pendidikan kurikuler  dan tujuan instruksional dengan memperhatikan aspek pengelolaan pendidikan (Organisasi makro, Organisasi meso, dan Organisasi mikro)  dan taraf pengelolaan. Penjabaran ini dapat dilihat pada Gambar 1.

1
Gambar 1. Hirarki tujuan instruksional dalam tujuan pendidikan.

1.2. TUJUAN INSTRUKSIONAL DALAM MODEL PENGAJARAN.
Dalam  pengelolaan  dan  pengembangan  pengajaran  diperlukan  suatu  model yang  dipakai sebagai pegangan yang mencakup semua komponen pokok yang harus dipertimbangkan, dibuat, diatur dan dilaksanakan oleh pengajar.
1.2.1. Model “Basic Teaching”
Basic  Teaching  Model  merupakan  metode  didaktik  yang  dikembangkan olehGasler.  Model  ini  terdiri  atas  komponen  Tujuan instruksional,kemampuan untuk mencapai   tujuan   instruksional,   prosedur  instrusional,  assesment   dan   feedback. Keterkaitan model ini speeti yang terdapat dalam Gambar 2.

Penjelasan :
Gambar 2. “Basic Teaching Model” menurut konsep Glaser

2

  1. Intructional objective adalah kemapuan yang harus dicapai siswa.
  2. Entering behaviour adalah kemampuan yang diperlukan untuk mencapai tujuan instruksional (prasyarat)
  3. Instructional procedures adalah  kegiatan  mengajar  yang  memberikan  struktur dan arah pada kegiatan belajar siswa.
  4. Performance Asessment adalah sampai berapa jauh tujuan tercapai, uyang dapat dilihat dari prestasi siswa
  5. Feedback adalah umpan balik dari komponen satu ke yang lain.

1.2.2. Model “Didactische Analyse”
Model  “Didactiche   Analyse’   dikembangkan  oleh  van  Gelder.   Komponen komponen yang terkait dalam model ini dapat dilihat pada Gambar 3.

TUJUAN INSTRUKSIONAL (1)
KEMAMPUAN SISWA PADA AWAL PELAJARAN (2)

Penjelasan :
EVALUASI HASIL BELAJAR(7)
3
Gambar 3. Model “Didactische Analyse” menurut Van Gelder

  1. Tujuan Instruksional adalah kemampuan yang harus diperoleh siswa
  2. Kemampuan siswa  pada  awal  pelajaran  adalah  kemampuan  yang diperlukan untuk mencapai tujuan instruksional (prasyarat)
  3. Materi Pelajaran adalah bahan pelajaran
  4. Prosedur didaktis adalah metode didaktis yang digunakan oleh guru, misalnya

ceramah, demostrasi dll.

  1. Kegiatan belajar  adalah  aktivitas  belajar  yang  dijalankan  oleh  siswa  sendiri,

misalnya diskusi kelompok, membaca referensi.

  1. Peralatan mengajar dan belajar adalah berbagai media pengajaran dan alat-alat

bantu untuk belajar.

  1. Evaluasi Belajar adalah peniliaian terhadap kemampuan siswa.

1.2.3. Model Kegiatan Didaktis
Model kegiatan didaktis dikembangkan oleh E. De. Corte yang merupakan pengembangan lebih anjut dari model Van Gelder. Keterkaitan komponen pada model ini seperti yang terdapat pada Gambar 4.

TUJUAN ISTRUKSIONAL (1)
PROSES BELAJAR
EVALUASI:
*) HASIL
*) PROSES (3)

KEADAAN AWAL (2)
4
Gambar 4. Model Kegiatan Didaktis menurut De Corte
Penjelasan:

  1. Tujuan Instruksional adalah apa yang menjadi tujuan belajar-mengajar
  2. Keadaan awal diarikan dengan dua cara :
  3. a. Dalam arti luas: keadaan siswa, guru, jaringan sosial di sekolah dan di

kelas sebagai instutusi pendidijan, faktor-faktor situasional.

  1. b. Alam arti sempit : kemampuan yang diperlukan untuk mencapai tujuan

instruksional (prasyarat)

  1. Evaluasi diartikan dalam dua hal:
  2. a. Penilaian terhadap hasil belajar siswa yang telah dicapai sesuai dengan tujuan istruksional (evaluasi produk), baik dalam aspek isi maupuj aspek jenis perila
  3. b. Penilaian terhadap proses belajar-mengajar yang mengacu pada tujuan

instruksional dan keadaan awal siswa (evaluasi proses0

  1. Proses belajar adalah kegiatan mental yang dilakukan siswa menurut urutan fase

tertentu dan sesuai dengan jalur belajar tertentu.

  1. Prosesdur didaktis adalah cara-cara mengatur kegiatan siswa.
  2. Materi Pelajaran adalah hal yang menyangkut aspekisi dan tujuan instruksional dan pokok bahasan
  3. Pengelompokan siswa adalah tata cara mebentuk kelompok-kelompok siswa di dalam kelas.
  4. Media pengakjaran adalah alat-alat bantu yang digunakan oleh guru sendiri atau ditawarkan kepada siswa untuk digunakan.
  1. Proses belajar-mengajar adalah interaksi antara guru dan kegiatan siswa selama periode tertentu.

1.3. DEFINISI TUJUAN INSTRUKSIONAL
Tujuan  Istruksional  merupakan  bagian  dari  pembelajaran.  Berbagai  definisi tujuan instruksional disampaikan oleh beberapa tokoh diantaranya :

  1. Robert F.  Mager  (1962).  Tujuan  instruksional  sebagai  tujuan  perilaku  yang hendak  dicapai  atau  yang  dapat  dikerjakan  oleh  siswa  pada  kondisi  tingkat

kompetensi tertentu.

  1. Eduard L. Dejnozka dan David E. Kavel (1981). Tujuan instruksional adalah

suatu pernyataan yang spesifik yang dinyatakan dalam bentuk perilaku atau penampilan yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang diharapkan. Perilaku ini dapat berupa fakta yang tersamar (covert).

  1. Fred  Percival dan Henry Ellington (1984).  Tujuan instruksional adalah suatu

pernyataan yang jelas menunjukkan penampilan atau keterampilan siswa tertentu yang diharapkan dapat dicapai sebagai hasil belajar.
Dalam proses belajar-mengajar, Tujuan Istruksional terbagi menjadi dua yaitu:

  1. Tujuan Instruksional  Umum  yang  menggariskan  hasil-hasil  di  aneka  bidang studi yang harus dicapai oleh siswa.
  2. Tujuan Istruksional  Khusus    (TIK)  yang  merupakan  penjabaran  dari  Tujuan

Instruksional Umum yang menyangkut satu pokok bahasan atau topik pelajaran tertentu sebagai tujuan pengajaran yang kongkrit  dan spesifik, yang dianggap cukup berharga, wajar dan pantas yang dapat direalisasikan dan bertahan lama untuk tercapainya tujuan instruksional umum.

Tujuan Instruksional Khusus (TIK) dapat dibedakan menjadi dua aspek yakni:

  1. a. Aspek jenis perilaku yang dituntut dari siswa
  2. b. Aspek isi (content) yakni aspek terhadap hal yang harus dilaksanakan

Adapaun cara merumuskan tujuan instruksional khusus:

  1. a. Menyebutkan siapa yang mencapai tujuan dan bagaimana cara mencapainya.

Dengan  cara  ini  siswa  diharapkan  melakukan  sesuatu  yang  dapat dilihat,didengar (observable behaviour) dan menampakkan hasil belajarnya dengan menunjukkan perilaku (behavioral aspect) yang diharapkan.

  1. b. Menjelaskan sasaran siswa melakukan sesuatu (isi).
  2. c. Menjelaskan persyaratan yang berlaku bila siswa melaksanakan tugas sesuai

dengan instruksional khusus.

  1. Menentukan target prestasi minimal yang harus dicapai.

1.4. MANFAAT TUJUAN INSTRUKSIONAL
Manfaat tujuan instruksional adalah sebagai dasar dalam :
Ø  Menentukan tujuan (objective) proses belajar mengajar
Ø  Menentukan persyaratan awal instruksional.
Ø  Merancang strategi instruksional
Ø  Memilih media pembelajaran.
Ø  Menyusun instrumen tes pada proses evaluasi (pretes dan post tes).
Ø  Melakukan tindakan perbaikan atau improvement pembelajaran.

1.5. TAKSONOMI TUJUAN INSTRUKSIONAL
1.5.1. Menurut Jenis Perilaku
Taksonomi  di  sini  diartikan  sebagai  salah  satu  metode  klasifikasi tujuan instruksional  secara  berjenjang  dan  progresif  ke  tingkat  yang lebih  tinggi.  Masing-masing isi kawasan Taksonomi tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
Dalam proses belajar-mengajar, guru harus menempatkan tujuan instruksional menurut aspek perilaku pada kawasan menurut sitematika Bloom Gagne dan Simpson yakni:
5

  1. Kawasan Kognitif (Pemahaman)

Kawasan  kognitif  adalah  subtaksonomi  yang  mengungkapkan  tentang kegiatan mental  yang  sering  berawal  dari  tingkat  “pengetahuan”  sampai  ke  tingkat  yang paling tinggi yaitu “evaluasi”. Kawasan kognitif terdiri dari enam tingkatan dengan aspek belajar yang berbeda-beda. Keenam tingkat tersebut;

  1. Tingkat pengetahuan (knowledge)

Tujuan intruksional pada level ini menuntut siswa untuk mampu mengingat(recall)informasi yang telah diterima sebelumnya,  seperti  misalnya  :  fakta, terminology, rumus, strategi pemecahan masalah, dan sebagainya.

  1. Tingkat pemahaman (comprehension)

Kategori  pemahaman  dihubungkan  dengan  kemampuan  untuk  menjelaskan
pengetahuan, dan informasi yang telah diketahui dengan kata-kata sendiri.

  1. Tingkat penerapan (application)

Penerapan   merupakan   kemampuan   untuk   menggunakan   atau   menerapkan informasi yang telah dipelajari ke dalam situasi yang baru, serta memecahkan
berbagai maslaah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Tingkatan analisis (analysis)

Analisis merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi,memisahkan dan membedakan komponen-komponen atau elemen suatu fakta, konsep, pendapat, asumsi,hipotesa atau  kesimpulan,  dan  memeriksa  setiap  komponen  tersebut untuk melihat ada tidaknya kontradiksi.
Dalam  hal  ini  siswa  diharapkan  menunjukkan  hubungan  di  antara berbagai gagasan dengan cara membandingkan gagasan tersebut dengan standar, prinsip atau prosedur yang telah dipelajari.

  1. Tingkat sintesis (synthesis)

Sintesis di sini diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam mengaitkan dan
menyatukan berbagai elemen dan unsur pengetahuan yang ada sehingga terbentuk pola baru yang lebih menyeluruh.

  1. Tingkat evaluasi (evaluation)

Evaluasi merupakan level tertinggi, yang mengharapkan siswa mampu membuat penilaian dankeputusan tentang nilai suatu gagasan, metode, produk atau benda dengan menggunakan kriteria tertentu. Jadi evaluasi di sini lebih condong ke bentuk penilaian biasa daripada sistem evaluasi.

  1. B. Kawasan Afektif (sikap dan perilaku).

Untuk  memperoleh gambaran tentang kawasan tujuan instruksional afektif secara utuh, berikut ini akan dijelaskan setiap tingkat secara berurutan berikut ini :

  1. Tingkat menerima (receiving)

Menerima  di  sini  diartikan  sebagai  proses  pembentukan  sikap  dan perilaku dengan cara membangkitkan kesadaran tentang adanya stimulus tertentu yang mengandung estetika.

  1. Tingkat tanggapan (responding)

Tanggapan atau jawaban (responding) mempunyai beberapa pengertian, antara
lain :
v Tanggapan dilihat dari segi pendidikan diartikan sebagai perilaku baru dari
sasaran  didik  (siswa)  sebagai  manifestasi  dari  pendapatnya  yang timbul karena adanya perangsang pada saat ia belajar.
v Tanggapan dilihat dari segi psikologi perilaku (behavior psychology) adalah segala perubahan perilaku organisme yang terjadi atau yang timbul karena adanya rangsangan

  1. Tingkat menilai (valuing)

Menilai dapat diartikan sebagai :
v Pengakuan  secara  obyektif  (jujur)  bahwa  siswa  itu  obyektif,  sistem  atau benda tertentu mempunyai kadar manfaat.
v Kemauan untuk menerima suatu obyek atau kenyataan setelah seseorang itu
sadar  bahwa obyek  tersebut  mempunyai nilai atau  kekuatan,  dengan cara menyatakan dalam bentuk sikap atau perilaku positif atau negatif.

  1. Tingkat organisasi (organization)

Organisasi dapat diartikan sebagai :
v Proses  konseptualisasi  nilai-nilai  dan  menyusun  hubungan  antar  nilai-nilai tersebut, kemudian memilih nilai-nilai yang terbaik untuk diterapkan.
v Kemungkinan  untuk  mengorganisasikan  nilai-nilai,  menentukan  hubungan antar nilai dan menerima bahwa suatu nilai itu lebih dominan dibanding nilai
yang lain apabila kepadanya diberikan berbagai nilai.

  1. Tingkat karakterisasi/Pembentukan pola hidup (characterization by a value or value complex)

Karakterisasi adalah sikap dan perbuatan yang secara konsisten dilakukan oleh
seseorang selaras dengan nilai-nilai yang dapat diterimanya, sehingga sikap dan perbuatan itu seolah-olah telah menjadi ciri-ciri pelakunya.

Berdasarkan pada kelima tingkatan yang dirumuskan oleh Bloom dan Kratwohl tersebut  di  atas,  maka  Romiszowski  dalam  bukunya  Producing Instruction System  (1984),  mengelompokkan  aspek  afektif  tersebut  menjadi  dua  tipe perilaku yang berbeda.

    1. Reflek yang terkondisi, yaitu reaksi kepada stimuli khusus tertentu yang

dilakukan   secara   spontan   tanpa   direncanakan   lebih   dahulu   tujuan reaksinya.

  1. Sukarela (voluntary)  adalah  aksi  dan  reaksi  yang  terencana  untuk mengarahkan  ke  tujuan  tertentu  dengan  cara  membiasakan  dengan

latihan-latihan untuk mengontrol diri.

  1. Kawasan Psikomotor (psychomotor domain)

Kawasan   psikomotor   adalah   kawasan   yang   berorientasi  kepada   keterampilan motorik yang berhubungan dengan anggota tubuh, atau tindakan (action) yang memerlukan  koordinasi antara  syaraf dan  otot. Dengan  demikian maka kawasan psikomotor  adalah  kawasan  yang  berhubungan  dengan  seluk  beluk  yang  terjadi karena adanya koordinasi otot-otot oleh fikiran sehingga diperoleh tingkat keterampilan fisik tertentu.

Kawasan psikomotor meliputi sebagai berikut :

  1. Persepsi (perception)

Mencakup kemampuan untuk mengadakan diskriminasi yang tepat antara dua perangsang atau lebih berdasarkan perbedaan antara ciri-ciri fisik yang
khas pada masing-masing rangsangan.

  1. Kesiapan (set)

Mencakup kemampuan untuk menempatkan dirinya dalam keadaan akan memulai suatu gerakan atau rangkaian gerakan.

  1. Gerakan terbimbing (Guided response)

Mencakup kemampuan untuk melakukan rangkaian geral sesuai dengan contoh yang diberikan (imitasi).

  1. Gerakan yang terbiasa (mechanical response)

Mencakup kemampuan untuk melakukan suatu gerakan dengan lancar karena sudah dilatih secukupnya tanpa memperhatikan lagi contoh yang diberikan.

  1. Gerakan Kompleks (Complex response)

Mencakup kemampuan untuk melaksanakan suatu ketrampilan yang terdiri atas beberapa komponen dengan lancar tepat dan efisien.

  1. Penyesuaian pola gerakan (adjusment)

Mencakup kemampuan untuk mengadakan perubahan dan menyesuaikan pola gerak dengan kondisi setempat atau dengan menunjukkan taraf ketrampilan yang telah mencapai kemahiran.

  1. Kreativitas (creativity)

Mencakup kemampuan untuk melahirkan aneka pola gerak yang baru atas dasar prakarsa dan inisiatif sendiri.

Taksonomi Bloom ini mendapat berbagai tanggapan di kawasan kognitif. E. De. Corte mengusulkan sebuah kalisifikasi dengan mengacu pada model intelegensia yang  dikembangkan oleh Guilford dengan mengelompokkan kawasan kognitif menjadi :

  1. a. Kemampuan reproduktif meliputi:

Kemampuan ini meliputi resepsi berdasarkan pengamatan, mengenal kembali (recognition) dan mengingal (recall)

  1. b. Kemampuan produktif

Kemampuan  ini  meliputi  kemampuan  menciptakan  sendiri  jawaban    atas suatu pertanyaan dan menemukan pemecahan atas sebuah permasalahan.

Hasil kemampuan ini tampak dalam 3 hal:

  1. i. Hasil proses berfikir konvergen   yakni hasil atau jawaban yang sudah

pasti dengan langkah pemecahan yang sudah ditentukan.

  1. ii. Hasil proses berfikir divergen yaitu hasil atau jawaban yang belum pasti

dengan langkah pemecahan yang belum pasti pula.

iii. Hasil proses berfikir evaluatif yaitu mengolah dan menilai berdasarkan
kriteria tertentu.
Sistematika Guilford dan E. De Donte tentang pemahaman pada kawaan kognitif dapat dilihat pada Gambar 5.
5
Gambar 5. Perbandingan antara sistemarika Guilford dan E. De. Conte.

1.5.2. Menurut Isi

Tujuan Instruksional harus mencantumkan aspek isi (content) yang menunjuk pada learning content. Isi dalam Tujuan Instruksional tidak sama dengan materi, karena materi menunjuk pada subject matter.

Content dalam tujuan instruksional dibuat menurut urutan tertentu dengan suatu pola yang berurut dari awal sampai akhir yang terangkai dalam satu kesatuan. Jika siswa tidak menguasai salah saru rangkaian maka siswa akan mengalami kesulitan. Hal ini umumnya berlaku pada pembelajaran matematika dan bahasa asing.
Dapat juga tujuan instruksional  tanpa mengikuti pola yang berurut (sequence), sehingga   tujuan   istruksional  dapat   disusun  menurut keperluan dan siswa tidak mengalami kesulitan jika tidak mengkuti salah saru rangkaian pembelajaran. Umumnya berlaku pada bidang Ilmu sosial.

  1. II. KLASIFIKASI DAN ANALISIS TUGAS BELAJAR

Dalam  menentukan  Tujuan  Instruksional Khusus  berdasarkan  aspek  perilaku, Gagne menggunakan pengklasifikasian “Tugas belajar” (Task classification) dan dilengkapi dengan “Analisis tugas belajar” (Learning task analysis ) dengan menggunakan   “Hirarki   dalam   belajar”   (Learning   Hierarchy   )   yang   berupa instructional sequence. Setiap TIK   yang hendak dicapai menuntut persyaratan kemampuan internal yang harus dimiliki yang berupa salah satu dari lima hasil belajar (informasi verbal, kemahiran intelektual, pengaturan kegiatan kognitif, ketrampilan motorik dan sikap).
Pengklasifikasian tugas belajar dan penerapan analisis tugas belajar ini seperti yang diilustrasikan  pada Gambar 6 dan Gambar 7.
7 Gambar 6. Skema pengklasifikasian tugas belajar.
8
Gambar 7. Analisis tugas belajar menurut Gagne.
PUSTAKA

Winkel, W.S., “Psikologi Pembelajaran”, Media Abadi, Cetakan ke IX, tahun 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.